Pendidikan di Indonesia lagi menanggung beban yang nggak kecil, mulai dari harapan orang tua, tuntutan perkembangan zaman, sampai kondisi sekolah yang kadang bikin geleng kepala, Kurikulum berubah-ubah, teknologi makin kencang, tapi pertanyaannya tetep sama dari tahun ke tahun: apakah sekolah benar-benar bikin anak siap hidup di dunia yang makin aneh, makin liar lajunya, atau cuma jadi tempat mengulang rutinitas yang sama, sebagaimana kehidupan di sebuah penjara, akan tetapi saat ini pola pikir kita yg di penjara.
Masalah akses masih jadi luka yang gampang banget kelihatan, Di kota, sekolah punya lab canggih, wifi kencang, AC sampai dingin bikin merinding, guru lengkap dengan pelatihan yang katanya mutakhir. Sementara di pelosok, ada sekolah yang atapnya masih bocor, lantainya retak-retak, dan gurunya harus merangkap mulai dari kepala sekolah sampai “admin” dadakan. Kadang rasanya slogan “pendidikan untuk semua” cuma terdengar keren di baliho, tapi di lapangan masih seperti mimpi yang baru bangun setengah menggeliat, dan masih remang-remang. Seperti yang pernah diingatkan Najelaa Shihab dalam Main Belajar Berubah, pemerataan itu bukan cuma soal bangunan atau alat belajar, tapi soal memberi kesempatan yang sama buat tumbuh sebagai manusia seutuhnya. Sayangnya, konsep “seutuhnya” ini sering kalah oleh konsep anggaran yang “seadanya”.
Di tengah semua kekacauan itu, guru tetap jadi pusat semesta, Mereka ini bukan cuma pengajar, tapi penjaga akal sehat di era informasi yang datang kayak ombak pasang nggak ada habis-habisnya. Tapi tuntutan terhadap guru makin gila, harus kreatif, harus update teknologi, harus bisa membimbing, harus sabar, harus jadi psikolog dadakan, harus ngisi ribuan administrasi online yang entah siapa juga yang baca, di tuntut harus manjadi Avatar yg bisa menguasai empat elemen. Masalahnya, banyak pelatihan guru cuma seremonial, rapi di atas kertas, tapi realitanya jalan di tempat. Ada workshop besar, fotonya masuk laporan, tapi isinya kadang cuma pengulangan materi lama yang dibungkus jargon baru.
Relevansi pelajaran juga jadi batu sandungan yang bikin banyak siswa ngerasa sekolah itu cuma rutinitas panjang yang nggak nyambung sama hidup mereka. Mereka hafal rumus, hafal nama ilmiah tumbuhan, hafal definisi yang kepanjangan, tapi tetap bingung ketika harus dipakai menghadap realita. Dalam Pendidikan Karakter di Zaman Keblinger, Kak Seto menekankan pentingnya pendidikan yang memanusiakan manusia, bukan menjadikan siswa mesin hafalan yang hidup dari ujian ke ujian. Dunia kerja melaju cepat, berubah tiap tahun, kadang tiap bulan. Sementara kurikulum kita bergerak seperti kereta lawas: hanya sekedar embel-embel, berisik, dan kadang masih pakai jalur yang salah, Mentri pendidikan nya saja entah dari mana dan tidak sesuai keahliannya bahkan terjerat kasus, Jelas dari pemimpinnya saja semrawut, belum lagi Ada masa transisi yang bikin semua orang bingung,guru bingung, murid apalagi, orang tua tambah pusing.
Meski begitu, angin segar selalu muncul dari tempat-tempat tak terduga. Banyak komunitas belajar tumbuh dari desa sampai kota; ruang baca kecil, kelas kreatif, mentoring gratis yang digagas anak-anak muda yang capek melihat kondisi berjalan seadanya, Mereka nggak nunggu aba-aba negara. Mereka bikin gerakan kecil yang kadang justru lebih hidup dari program resmi. Inovasi sering muncul dari keresahan orang biasa, yang cuma ingin memperbaiki keadaan walau sedikit demi sedikit. Dan ya, kadang gerakan kecil seperti inilah yang bikin kita yakin kalau harapan itu masih ada, meskipun bentuknya kadang berantakan.
Ke depan, Indonesia butuh keberanian mengubah cara pandang secara serius. Pendidikan nggak boleh cuma digantungkan pada ranking, ujian, dan hafalan, yang hanya formalitas. Kita membutuhkan kemampuan bernalar, kerja sama, kreativitas, pengelolaan emosi, dan kemampuan bertahan hidup di dunia yang sering tidak ramah ini. Guru juga harus diperlakukan sebagai mitra perubahan, bukan sekadar pelaksana aturan yang berubah tiap pergantian pejabat. Pendidikan itu investasi panjang, bukan proyek semusim yang selesai pas rapat anggaran ditutup. Kalau arah ini berani diambil, pelan-pelan pendidikan kita bisa berhenti jadi wacana, dan mulai terasa manfaatnya di kehidupan sehari-hari, walaupun mungkin nggak mulus, ya namanya juga negara sebesar ini, pasti ada drama-dramanya.
Referensi
Shihab, Najelaa. Main Belajar Berubah. Bentang Pustaka, 2018.
Seto Mulyadi. Pendidikan Karakter di Zaman Keblinger. PT Gramedia, 2013.
ISU PENDIDIKAN DI INDONESIA